Ahad, 7 Ogos 2011

Amalan Bergantung Pada Niat

Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada paras rupa, tidak kepada nasab keturunan dan harta kekayaan kamu, sebaliknya Allah melihat kepada hati kamu”.

“Allah tidak melihat ” bermaksud Allah tidak membuat keputusan tentang kedudukan seseorang samada di syurga atau neraka berdasarkan kepada paras rupa, keturunan dan harta yang dimiliki seseorang.

Paras rupa yang cantik atau tidak adalah ujian Allah semata-mata kerana Allah ingin melihat bagaimana kita menggunakannya dalam perbuatan dan pergaulan dan semuanya diberi markah.

Allah menciptakan pelbagai bangsa dan keturunan hanya untuk memperlihatkan kekuasaannya. Tetapi Allah tidak melihat keturunan seseorang dalam membuat keputusan syurga dan neraka. Dalam sebuah hadith disebut, sesiapa yang tercicir amalannya, nasab keturunannya tidak boleh membawanya ke hadapan (melepasi titian Sirat)

Rasulullah s.a.w bersabda “Sesiapa yang melambatkan amalan, keturunannya tidak akan bersegera untuknya.” (Hadis Riwayat Muslim)

Begitu juga harta yang dimiliki, Allah hanya ingin melihat daripada mana kita mendapatkan harta itu (samada daripada sumber yang halal atau haram) dan ke mana ia dibelanjakan. Ada orang yang mendapat rezeki yang daripada sumber yang haram dan mengatakan “nak buat macam mana dah memang rezeki saya”. Sememangnya Ahli Sunnah Wal Jamaah berpendapat semua rezeki samada halal atau haram adalah daripada Allah, namun rezeki yang haram akan diambilkira dalam perhitungan Allah nanti. Dari Abi Barzah al-Aslami r.a., dari Nabi s.a.w, sabdanya:

“Tidak berganjak kedua kaki seseorang dari tempat berdirinya di mahkamah Tuhan pada hari qiamat sehingga ia disoal tentang umurnya pada perkara apakah ia habiskan dan tentang ilmunya untuk apakah ia gunakan dan tentang harta bendanya dari manakah ia dapati dan pada perkara apakah ia belanjakan dan juga tentang tubuh badannya pada perkara apakah ia susutkan kemudaan dan kecergasannya?”

“Allah melihat kepada hati” bermaksud Allah melihat kepada keimanan dan keikhlasan sesorang dalam melakukan amalan. Hati hendaklah baik dan ikhlas samada dalam hubungan dengan Allah juga dalam hubungan sesama manusia. Bahkan manusia tidak akan menerima persahabatan yang tidak ikhlas, misalnya persahabatan hanya untuk sesuatu kepentingan. Ulama dahulu mengajar kita menyebut “Sengaja aku sembahyang kerana Allah” supaya kita mengikhlaskan atau melakukan sembahyang secara sukarela, daripada kehendak hati dan bukannya kerana paksaan.

Ada orang mengatakan “Aku ni luar saja jahat tapi dalam (hati) baik” dan “walaupun saya tidak bertudung (menutup aurat), tapi hati saya baik“. Sebenarnya kalau dalaman (hati) baik, maka luaran (amalan, perangai dan pakaian) pun baik kerana setiap amalan itu lahir dari hati.

Rasulullah s.a.w. bersabda “Ketahuilah, bahawa di dalam diri anak Adam itu ada seketul daging, yang bila ianya baik maka baik seseorang itu, dan apabila buruk, buruklah amalan seseorang itu, ketahuilah, ia adalah hati” (Riwayat Muslim)


Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul.

Dan kalau sebenarnya mereka itu tetap beriman dan bertaqwa (nescaya mereka akan mendapat pahala); sesungguhnya pahala dari sisi Allah itu adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (Al-Baqarah 2:103)

Kitab Al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya (tentang datangnya dari Allah dan tentang sempurnanya); ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa; (Al-Baqarah 2:2)

♥ "Rebutlah Gelar Wanita Sholehah" ♥

Pertama-tama mesti engkau sedari, bahawa sesungguhnya aku tak akan menilai kecantikan wajahmu dibalik jilbab yang engkau kenakan, serta harta yang kau miliki sebagai daya tarik untuk menikahimu. Tapi kecantikan hati, perilaku, serta ketaatanmu kepada Dienul Islam itu yang utama. Memang hal ini sangat musykil di zaman yang telah penuh dengan noda-noda hitam akibat perbuatan manusia, sehingga wanita-wanitanya sudah tidak malu lagi untuk menjual kecantikannya dan berlumba-lumba memperlihatkan aurat dengan sebebas-bebasnya demi memuaskan hawa nafsu jahatnya. Namun itulah yang diajarkan Rasulullah Sallallahu 'alahi Wasallam , kepada kita melalui haditsnya :

“Janganlah engkau peristrikan wanita karena hartanya, sebab hartanya itu menyebabkan mereka sombong. Dan jangan pula kamu peristrikan wanita
karena kecantikannya, karena boleh jadi kecantikannya itu dapat menghinakan
dan merendahkan martabat mereka sendiri. Namun peristrikan wanita atas dasar agamanya. Sesungguhnya budak hitam legam kulitnya tetapi agamanya lebih baik, lebih patut kamu peristrikan“. (HR. Bukhori)

Dan Allah pun tak akan melihat kebagusan wajah dan bentuk jasadmu. Tapi Dia menilai hati dan amal yang kau lakukan. Hendaknya engkau yakin bahwa wanita-wanita salafusshaleh adalah ikutanmu, yang telah mendapat bimbingan dari Rasulullah Sallallahu 'alahi Wasallam.

Contohlah Ummu Khomsa yang tersenyum gembira mendengar anak-anaknya gugur dalam medan pertempuran. Tentunya engkau hairan, mengapa seorang
ibu seperti itu ? jawabnya adalah karena ia yakin bahwa jannah telah menanti anaknya di akhirat, sedangkan engkau tahu, tak seorangpun yang tidak menginginkan akhir hidup di tempat yang penuh kenikmatan itu.

Katakanlah kepada anak-anakmu kelak :

…janganlah engkau bimbang dan ragu wahai anakku, kalau kamu syahid
daripada sibuk mengumpulkan harta dan memburu pangkat. Maka kalau kamu ingin termasuk ke dalam golongan-golongan pejuang ISLAM yang benar-benar memperjuangkan hak Allah dan Rasul-Nya. Serahkan dirimu dan ketaqwaan yang kuat dan tanamkan pula dalam hatimu iman serta keinginan untuk menemuin-Nya secara syahid. Bayangkanlah bahwa jannah sedang menanti, bersama para bidadari yang sedang berhias menanti kekasih-kekasihnya, yaitu kamu sendiri.

Seperti Firman Allah :

“Dan didalam Jannah itu ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik” (QS 56 : 22-23)

Ajarkanlah pada anak-anak kita kelak, bahwa hidup dalam ISLAM tidak bererti mencari kenikmatan semua di dunia ini sehingga mereka bersenang-senang didalamnya dan lupa akan Akhirat. Padahal Rasulullah mengajarkan “ Addunya mazra’atul akhiroh (Dunia adalah ladangnya akhirat). Jadi dunia bukan tujuan akhir, tapi hanya sekedar jambatan untuk menuju kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal sehingga mereka mengerti bahwa mencari keridhoan Allah bererti pengorbanan yang terus menerus, Seperti Firman-Nya :

“ Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya kerana mencari keredaan Allah semata-mata; dan Allah pula Amat belas-kasihan akan hamba-hambanya”. (QS. Al Baqarah : 207)

Akhirnya merekapun tahu bahwa jalan yang mereka pilih itu tidak menjanjikan harta di dunia ini yang banyak, rumah mewah, kenderaan yang banyak, atau katil-katil yang empuk, pangkat dan wanita, tapi jalan mereka semua adalah jalan yang penuh dengan duri-duri cubaan serta seribu batu macam tentangan. Karena Allah tidak akan memberi Jannah kepada kita dengan harga yang murah.

Berdo’alah kepada-Nya agar engkau lahirkan kelak dari rahimmu seorang anak pewaris perjuangan nabi-nabi-Nya yang senantiasa mereka mendo’akan kita. Didiklah mereka agar taat dan berbuat baik kepada kita serta tidak menyekutukan Allah, seperti yang diwasiatkan Luqman kepada anak-anaknya (31:31).

Fahamkan mereka bahwa pewaris perjuangan Rasul dan Nabi bukanlah bererti mereka hanya menjadi pejuang di medan jihad, tapi juga seorang abid (zuhud) di malam hari. Anak kita kelak adalah amanah dari-Nya oleh sebab itu Allah akan murka seandainya kita menyia-nyiakannya. Pembentukan peribadi anak itu sangat bergantung kepada kita yang mendidiknya. Apakah ia akan menjadi orang yang beriman atau sebaliknya. Hendaklah engkau perhatikan makanan untuk mereka, pergaulannya serta pilihkan pendidikan yang mereka ikuti.

Jadilah engkau seperti Siti Maryam yang dapat mendidik Isa a.s.
di tengah-tengah cemuhan dan cacian masyarakat. Atau Siti Asiyah (istri fir’aun) yang dapat memupuk keimanan Musa a.s. di dalam istana yang penuh dengan kedurhakaan dan kekufuran. Kemudian Masyitah yang mampu memantapkan hati anak-anaknya walaupun harus menghadapi air yang mendidih demi kebenaran. Atau deperti Siti Khadijah R.ha. Aisyah R.ha, Sayidina Fatimah R.ha yang membesarkan anak-anaknya di tengah-tengah kemiskinan.

Bila engkau telah memahami tugas terhadap anak-anakmu dalam Islam,
maka mudah-mudahan Allah akan memberkhahi kalian dengan memberikan anak-anak yang sholeh, yang bersedia mengorbankan nyawanya demi mematuhi perintah Allah, seharusnyalah engkau faham juga bahwa dunia ini adalah perhiasan dan sebaik baiknya perhiasan adalah wanita sholehah.

Dan salah satu ciri yang harus engkau miliki jika ingin menjadi wanita sholehah dan bersedia untuk taat terhadap suamimu kelak seperti Firman-Nya dalam surat An-Nisaa :34 bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita dan istri yang baik adalah mereka yang setia (taat) kepada suami dan selalu memelihara kehormatannya selama suaminya tidak ada di rumah.

Hendaklah engkau berbeza dengan wanita-wanita saat ini yang banyak melalaikan suami dan anak-anaknya, mereka lebih sibuk dengan kerja, dan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, serta cenderung mempamerkan wajah dan aurat kepada yang bukan muhrimnya. Carilah ridha suami dengan cara-cara yang telah disyariatkan Islam, karena Rasulullah telah bersabda :

“Wahai Siti Fatimah, kalau engkau mati dalam keadaan
Ali tidak ridha padamu, niscaya aku ayahandamu tidak akan menyolatkanmu“.

Jadilah engkau perhiasan yang tinggi nilainya di dalam rumah tangga, sumber penyejuk dan kebahagiaan hati suami, berhiaslah engkau untuk menyenangkan suami, jagalah hatinya agar engkau tak menyakiti dia. Walaupun dengan hal-hal yang kecil. Katakan kepadaku jika akan berangkat mencari nafkah :

“Wahai suamiku carilah rezeki yang halal disisi Allah, janganlah engkau pulang membawa rezeki yang haram untuk kami. Kami rela berlapar dan hidup susah dengan makanan yang halal.”

Dan janganlah engkau cegah, jika aku hendak meninggalkanmu berhari-hari karena memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Tabahlah seperti tabahnya Siti Hajar dan Ismail yang ditinggalkan Ibrahim a.s. ditengah padang pasir yang tandus. Jika aku mengikuti jejak yasir, maka ikutilah di belakangku sebagai sumayyah, bila kukatakan kepadamu “perjuangan itu pahit” maka jawablah olehmu “Jannah itu Manis”

Sudah kiranya yang ingin aku sampaikan padamu, hendaklah engkau pahami
dan ikuti seperti yang telah aku tunjukkan kepadamu tapi harus diingat bahwa engkau melakukannya karena Allah bukan karena aku, semoga Allah meridhoi
kita dan memberi kemudahan dalam mengikuti petunjuknya ...

Sabtu, 6 Ogos 2011

✿`*•.¸❤ ISI HATI SEORANG PEMUDA ❤¸.•*✿

Kami sulit menahan pandangan mata kami ketika melihat kalian, apalagi jika kalian diamanahkan ALLAH kecantikan dan bentuk yang ideal, kami semakin susah untuk menolak agar tidak melihat kalian, kerana itu lebarkanlah pakaian kalian, dan tutupilah rambut hingga ke dada kalian dengan tudung yang labuh.

Kami juga sulit menahan pendengaran kami ketika berbicara dengan kalian, apatah lagi jika kalian diamanahkan oleh ALLAH suara yang merdu dengan irama yang mendayu, karena itu tegaskanlah suara kalian, dan berbicaralah seperlunya.

Kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati kalian, ketika kalian dapat menjadi tempat mencurahkan isi hati kami, waktu luang kami akan sering terisi oleh bayangan-bayangan kalian, karena itu janganlah kalian membiarkan kami menjadi curahan hati bagi kalian.

Kami tahu kami paling lemah bila harus berhadapan dengan kalian, Kekerasan hati kami dengan mudah bisa luluh hanya dengan senyum kalian, Hati kami akan bergetar ketika mendengar kalian menangis, Sungguh ALLAH telah memberikan amanah terindah kepada kalian, maka jagalah jangan sampai ALLAH murka dan memberikan keputusan.

Maha Besar ALLAH yang tahu akan kelemahan hati kami, hanya dengan ikatan yang suci dan yang diridhoi-Nya kalian akan halal bagi kami.

“Lalu apa yang telah aku lakukan selama ini…
Ya Robb…tolong ampuni aku…
untuk setiap pandangan yang tak terjaga,
lisan yang merayu dan hati yang tak terhijab…

Ya Rabb…Engkau mengawasi kami tiap detik,
karena kasih sayangMu kepada kami
engkau perintahkan malaikat silih berganti menemani kami siang dan malam…”

❤✿•*¨*•.¸¸ AKU HANYA AN-NISSA'¸.•*¨*•❤✿

Ya Allah..
Jadikan aku tabah seperti Ummu Khadijah
Sehingga dirinya digelar afifah solehah
Dialah wanita pertama
Tiada ragu mengucap syahadah
Pengorbanan bersama Rasulullah
Susah senang bersama
Walau hilang harta kerana berdakwah
Walau dipulau 3 tahun 3 bulan
Imannya sedikit pun tak berubah
Mampukah aku setabah dirinya?
Andai diuji sedikit sudah rebah..
Baru dihina sudah mengalah
Ya Allah..tabahkan aku sepertinya..

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Ya Allah..
Jadikan aku semulia Fatimah Az-Zahrah
Betapa tinggi kasihnya pada ayahandanya
Tidak pernah putus asa pada perjuangan dakwah baginda
Anak yang semulia peribadi baginda
Tangannya lah yang membersihkan luka
Tangannya jua yang membersihkan cela
Pada jasad Rasulullah tercinta
Gagahnya dirinya pada dugaan
Mampukah aku sekuat Fatimah?
Saat diri terluka dendam pula menyapa
Saat disakiti maki pula mengganti
Ya Rabbi..teguhkan hatiku sepertinya..

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Ya Allah..
Jadikan aku sehebat Masyitah dan Sumaiyah
Tukang sisir yang beriman
dan Keluarga Yasir yang bertakwa
Sungguh kesabaran mereka menggoncang dunia
Iman tetap terpelihara walau nyawa jadi taruhan
Mampukah sabarku seperti mereka?
Tatkala digoda nafsu dunia..
Entah mana hilangnya Iman di dada

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Ya Rahman..
Kuatkan Imanku seperti Masyitah
Terjun penuh yakin bersama bayi ke kuali mendidih
Kerana yakin Allah pasti disisi
Sabarkan aku seperti sumaiyah
Biar tombak menusuk jasad..
Iman sedikit pun takkan rapuh.

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Ya Allah..
Jadikan aku semulia Ummu Sulaim
Perkahwinannya dengan Abu Talhah atas mahar Iman
Islamlah Abu Talhah sehingga menjadi sahabat Rasulullah
Betapa hebatnya tarbiyyah isteri pada suami
Hinggakan segala panahan ke Rasulullah pada hari uhud
Disambut dengan belakang jasad Abu Talhah

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Ya Allah..
Tarbiyyahkan aku pada cinta sepertinya
Tingginya nilai cinta pada harga Iman
Mampukah aku menatap cinta itu?
Sedangkan rupa yang menjadi pilihan
Ketulusan Iman diketepikan
Ya Allah..
Ilhamkan aku pada cinta sepertinya..

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Ya Allah...
Jadikan aku sehebat Aisya Humaira
Isteri termuda Rasulullah
Biar dilempar fitnah
Dia tetap teguh pada ketetapanNya
Isteri sejati yang memangku Nabi
Pada saat terakhir baginda
Hadis dan Sunnah Rasulullah dipertahankan
Betapa hatimu seorang mujahidah

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Ya Allah..
Mampukah aku contohi dirinya?
Pada fitnah yang melanda
Diri mula goyah dan putus asa
Teguhkan Imanku sepertinya..Ya Rahim..

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Ya Allah..
Teringat diri pada Khansa
Empat orang anaknya mati di Jalan ALLAH
Dia meratap tangis..
Anak sulungnya syahid
Anak keduanya turut syahid
Anak ketiganya dan keempat jua mati syahid
Namun tangisan itu bukan kerana pemergian anak tercinta
Jawabnya kerana tiada lagi anak yang dihantar untuk berjihad

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Ya Allah..
Mampukah aku menjadi ibu yang berjihad?
Sedang anak tak tutup aurat pun masih tak terjawab
Sedang anak tinggal solat pun buat tak kisah
Berikan aku kekuatan sepertinya..
Agar bersedia pada akhirat.

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Wahai kaum Adam yang bergelar khalifah..
Diriku bukan setabah Ummu Khadijah
Bukan jua semulia Fatimah Az-Zahrah
Apa lagi sesabar Masyitah dan Sumaiyah
Mahupun sehebat Ummu Sulaim
Dan tidak seteguh Aisya Humaira
Kerana diri cuma An-Nisaa akhir zaman
Dimana Aurat semakin dibuka terdedah
Dimana syahadah hanya pada nama
Dimana Dunia yang terus dipuja
Dimana nafsu fana menjadi santapan utama
Dimana batas sentiasa dileraikan
Dimana ukhwah sentiasa dipinggirkan

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Wahai Kaum Hawa
Kita cuma An-Nisaa
Para pendosa yang terbanyak di neraka
Lantas walau tak setabah para Mujahidah
Namun Tabahlah pada ketetapan Allah
Kerana padanya ada Syurga!
Walau tak semulia para wanita sirah
Tapi muliakan diri dengan agama yang memelihara
kerana padanya ada Pahala!
Walau tak sesabar para wanita solehah
Namun sabarkan jiwa pada nafsu dunia yang menyeksa
Kerana padanya ada bahagia!

ﷲ¸.•*¨*•♫*ღ☆ღ*¨*¤.¸¸.¸¸.¤*​¨*ღ☆ღ*♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ•

Sesungguhnya Hawa tercipta dari Tulang rusuk kaum Adam
Bukan untuk ditindas kerana lemah
Tapi untuk dilindungi kerana Indah
dan Indah apabila tertutup terpelihara
Kerana disitulah terjaganya Syahadah
Bak mekarnya wanita dalam sirah
Tuntunlah kami ke arah syurga..
Bicara dari An-Nisaa yang hina..
Makbulkan doaku..

Jumaat, 17 Jun 2011

Saat Kematian

Dan sememangnya tiadalah bagi Iblis sebarang kuasa untuk menyesatkan mereka, melainkan untuk menjadi ujian bagi melahirkan pengetahuan Kami tentang siapakah yang benar-benar beriman kepada hari akhirat dan siapa pula yang ragu-ragu terhadapnya. Dan (ingatlah) Tuhanmu sentiasa mengawal serta mengawasi tiap-tiap sesuatu. (Saba' :21)

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda di dalam Hadis Qudsi: Allah s.w.t berfirman: “Tidak ada balasan kecuali syurga bagi hambaku yang beriman yang telah Aku ambil kembali kekasihnya (Aku mematikan seseorang yang disayanginya seperti anak, adik-beradik dan sesiapa sahaja yang di sayangi oleh seseorang) dari kalangan penghuni dunia dan dia hanya mengharapkan pahala daripadaKu (dengan bersabar). ”

Hadis riwayat Imam Bukhari“Apabila Allah kasihkan seseorang, Allah mengenakan dengan suatu ujian sehingga Allah mendengar rengekan permintaan yang bersungguh-sungguh.”(Dari Musnad Firdaus oleh Dailami)

Mengapa kita diuji? Firman Allah S.w.t, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”– Surah AlMulk : Ayat 2


Katakanlah : "Kalaulah kamu melarikan diri dari kematian atau dari pembunuhan maka perbuatan melarikan diri itu tidak sekali-kali mendatangkan faedah kepada kamu; dan kalaulah kamu pada hari ini terlepas sekalipun, maka kamu tidak juga akan menikmati kesenangan hidup melainkan sedikit masa sahaja".
(Al-Ahzaab :16)

Tersebut di dalam Unbar (Hadis) lima perkara racun yang membunuh dan lima perkara penawar sebagai ubatnya:
1. Dunia itu racunnya dan zahid itu ubatnya.
2. Harta itu racunnya dan zakat itu ubatnya.
3. Perkataan yang sia-sia itu racunnya dan zikir Allah itu ubatnya.
4. Seluruh umur itu racunnya dan taat itu ubatnya.
5. Seluruh tahun itu racunnya dan Ramadan itu ubatnya.

Sabda Nabi S.A.W.: Akan datang kasih mereka lima perkara dan lupa mereka lima perkara:
1. Kasih mereka kepada hidup — lupa mereka kepada mati.
2. Kasih mereka kepada harta — lupa mereka kepada hisab.
3. Kasih mereka kepada mahligai — lupa mereka kepada kubur.
4. Kasih mereka kepada dunia — lupa mereka kepada akhirat.
5. Kasih mereka kepada makhluk — lupa mereka kepada Allah.

Apabila hampir mati seseorang hamba Allah maka terbahagilah dia kepada limabahagi.
1. hartanya untuk warisnya.
2. nyawanya untuk Malaikal Maut.
3. dagingnya untuk ulat-ulat.
4. tulangnya untuk tanah.
5. amalan dan kebajikannya untuk orang yang dianayainya. ,



Apabila bercerailah nyawa dari badan maka terdengarlah seruan dari langit tiga kali:
1. Hai anak Adam, adakah engkau tinggal dunia atau dunia tinggalkan engkau?
2. Hai anak Adam, adakah engkau himpun dunia atau dunia himpunkan engkau?
3. Hai anak Adam, adakah engkau bunuh dunia atau dunia bunuhkan engkau?

Apabila dihantar ke tempat mandi berserulah suara dari langit tiga kali:
1. Hai anak Adam, di manakah badan engkau yang kuat mengapa jadi lemah?
2. Hai anak Adam, di manakah lidah engkau yang pitah bercakap mengapa diam?
3. hai anak adam di manakah kekasih engkau mengapakah jadi mulia rakan engkau?

Apabila dibawa ke atas kain kapan maka menyerJah suara dari langit tiga kali:
1. Hai anak Adam, engkau herjalan kepada perjalan yang jauh dengan tidak berbekal?
2. Hai anak Adam, engkau keluar dari rumah tiada akan engkau kembali selama-lamanya?
3. Hai anak Adam, engkau tinggal segala kenderaan maka tiada engkau kenderai selama-lamanya? dan engkau berpindah kepada negeri yang huru hara!

Apabila manyat dibawa di atas perusung (keranda) maka menyerulah suara dari langit tiga kali:
1. Hai anak Adam amat beruntunglah (bahagialah) kamu jika kamu menjadi seorang yang bertaubat.
2. Hai anak Adam amat beruntunglah (bahagialah) kamu jika amal mu baik.
3. Hai anak Adam amat beruntuglah (bahagialah) kamu jika sahabat mu dalam keredaan Allah — dan amat rugilah (celakalah) kamu jika sahabat mu orang yang dimurkai Allah.

Apabila mayat diletakkan untuk disembahyangkan maka menyerulah suara dari langit tiga kali:
1. Wahai anak Adam segala amal mu yang telah kamu lakukan akan kamu lihat.
2. Wahai anak Adam, jika amal mu itu baik kamu akan lihat baik.
3. Wahai anak Adam, jika amal mu itu buruk maka kamu kan lihat buruk.

Imam Annas bin Malik Radziyallah Anhu berkata, bahawa bumi setiap hari berkata:
1. Wahai anak Adam, kamu berjalan di atas ku, kamu akan kembali ke dalam perut ku (kubur).
2. Hai anak Adam, kamu berbuat maksiat dan dosa di atas ku, dan kamu akan disiksa di dalam perut ku (kubur).
3. Kamu bergurau di atas ku, dan kamu akan menangis di dalam perut ku (kubur).

Wallahualam...

Perintah Dan Kelebihan Orang Yang Mengejakan Solat


Dan dari mana sahaja engkau keluar (untuk mengerjakan sembahyang), maka hadapkanlah mukamu ke arah masjid Al-Haraam (Kaabah); dan di mana sahaja kamu berada maka hadapkanlah muka kamu ke arahnya, supaya tidak ada lagi (sebarang) alasan bagi orang-orang (yang menyalahi kamu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka (ada sahaja yang mereka jadikan alasan). Maka janganlah kamu takut kepada (cacat cela) mereka, dan takutlah kamu kepada Ku (semata-mata); dan supaya Aku sempurnakan nikmatKu kepada kamu, dan juga supaya kamu beroleh petunjuk hidayah (mengenai perkara yang benar). (Al-Baqarah 2:150)

Selain mendapat kebaikan di dunia, seseorang yang mengejakan solat juga akan mendapat kebahagian diakhirat dan jika diteliti kepada beberapa hadis yang telah menyatakan kelebihan-kelebihan solat terhadap individu yang mengerjakannya. Usman r.a diceritakan sebagai berkata, “ Allah SWT menganugerahkan sembilan kurnia atas orang yang menjaga solatnya dan khusyuk dalam mengerjakannya pada waktu-waktu yang telah ditetapkan, iaitu:

1. Dicintai Allah SWT
2. Diberi nikmat kesihatan
3. Dinaungi malaikat
4. Rumahnya diberkati
5. Nur taqawa bercahaya pada wajahnya
6. Hatinya akan menjadi lembut
7. Melintas titi Siraq seperti kilat pantasnya
8. Diselamatkan dari api neraka
9. Jiran-jirannya di Syurga adalah mereka yang Allah telah tetapkan dalam firmannya yang mafhumnya: “mereka tidak merasa takut dan tidak gundah gulana”. (Al-Baqarah: 38)

Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar
(Al-Baqarah :153)

Peliharalah kamu (kerjakanlah dengan tetap dan sempurna pada waktunya) segala sembahyang fardu, khasnya sembahyang Wusta (sembahyang Asar), dan berdirilah kerana Allah (dalam sembahyang kamu) dengan taat dan khusyuk. (Al-Baqarah :238)

Kemudian apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang, maka hendaklah kamu menyebut dan mengingati Allah semasa kamu berdiri atau duduk, dan semasa kamu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa tenteram (berada dalam keadaan aman) maka dirikanlah sembahyang itu (dengan sempurna sebagaimana biasa). Sesungguhnya sembahyang itu adalah satu ketetapan yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman, yang tertentu waktunya. (An-Nisaa' :103)

Selain itu juga, Rasulullah SAW bersabda, “Solat adalah tiang agama dan mempunyai sepuluh fadhilat, iaitu:
1. Daya penarik pada wajah
2. Teman di dalam kubur
3. Jalan turunnya rahmat Allah
4. Anak kunci ke syurga
5. Timbangan bagi neraca (amalan baik)
6. Jalan untuk mendapat keredhaan Allah
7. Harga bagi syurga
8. Naungan dari api neraka
9. Seseorang yang melengah-lengahkannya merosakkan islam

Huzaifah r.a juga berkata apabila Rasulullah menghadapi sesuatu kesulitan, lantas Baginda bersolat. Solat adalah satu rahmat yang besar dari Allah s.w.t bersolat pada ketika menghadapi sesuatu kesusahan adalah seumpama bersegera mencari rahmat Allah s.w.t dan apabila rahmat Allah itu tiba menyelamatkan pastilah bahawa bekas-bekas kesulitan itu tidak akan ada lagi.

Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitab Allah serta mendirikan sembahyang, sesungguhnya Kami tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang berusaha memperbaiki (keadaan hidupnya).
(Al-A'raaf :170)

Dengan menjalankan solat, kita boleh memperbaiki semula iman yang ada pada diri kita agar kita sentiasa bersemangat dan berkeyakinan sepanjang hari agar daya tumpuan kita tidak mudah goyah.

Perintah Tuhan Berbuat Baik Kepada Kedua Ibu Bapa

ISLAM mendidik umatnya supaya menghormati dan berbuat baik kepada ibu bapa. Segala jasa dan pengorbanan yang mereka curahkan sejak kita dilahirkan begitu besar dan tidak ternilai.

Pengorbanan ibu bapa dalam melayari bahtera rumah tangga amatlah besar. Merekalah yang bertanggungjawab mencari nafkah dan mendidik anak sejak kecil sehingga dewasa. Mereka juga sanggup mengorbankan kepentingan diri dan mengharungi pelbagai cabaran demi masa depan anak.

Sehubungan itu, anak wajib menghormati, mentaati dan berbuat baik terhadap ibu bapa. Ini sebagai suatu penghormatan tertinggi daripada anak dan membalas jasa ibu bapa mereka.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan Tuhanmu sudah perintahkan, supaya engkau tidak menyembahkan melainkan kepadaNya semata-mata dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa. Jika salah seorang daripada keduanya, atau kedua-duanya sekali, sampai kepada usia tua dalam jagaan dan peliharaanmu, maka janganlah engkau berkata kepada mereka (sebarang perkataan kasar), sekalipun perkataan ‘uuh’ dan janganlah engkau menengking mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan mulia (yang bersopan santun). Dan hendaklah engkau merendah diri kepada keduanya kerana belas kasihan dan kasih sayangmu dan doakanlah (untuk mereka, dengan berkata): “Wahai Tuhanku, cucurilah rahmat kepada mereka berdua seperti mereka mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku ketika kecil.” (Surah al-Israk ayat 23-24).

FirmanNya lagi yang bermaksud: “Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya sudah mengandungnya dengan menanggung susah payah dan melahirkannya dengan menanggung susah payah. Sedangkan tempoh mengandungnya beserta dengan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa tiga puluh bulan.” (Surah al-Ahqaf ayat 15).

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud r.a katanya: Aku pernah bertanya Rasulullah SAW: Apakah amalan paling utama? Baginda bersabda: Sembahyang pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Baginda bersabda: Berbakti kepada kedua ibu bapa. Aku bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Baginda bersabda: Berjuang pada jalan Allah. Kemudian aku bertanya lagi kepada baginda, semata-mata ingin menemani dan menjaga perasaan Baginda. (Riwayat Muslim)

Sebenarnya kewajipan menghormati dan berbuat baik kepada ibu bapa ini tidak terhenti selepas mereka meninggal dunia saja. Bahkan walaupun ibu bapa sudah tiada, anak dikehendaki berdoa supaya mereka mendapat keampunan Allah SWT. Selain itu, anak juga dikehendaki melaksanakan wasiat mereka; membayar hutang mereka (jika ada) dan berbuat baik kepada sahabat mereka. Jelaslah menghormati dan berbuat baik kepada ibu bapa adalah suatu amalan utama dan berterusan sepanjang masa.

Perintah Islam supaya menghormati dan berbuat baik kepada ibu bapa ini berbentuk umum tidak kira, sama ada mereka beragama Islam atau tidak. Cuma bagi ibu bapa bukan beragama Islam, perintah menghormati dan berbuat baik itu dengan bersyarat iaitu selagi ibu bapa tidak menyuruh anaknya yang beragama Islam melakukan perkara mensyirikkan Allah SWT.

Diriwayatkan daripada Sa’id bin Abu Waqqas bahawa Ummu Sa'ad adalah seorang kafir kerana terlalu benci kepada Rasulullah SAW, pada suatu hari Ummu Sa'ad berkata kepada anaknya, “Bukankah Allah menyuruh engkau berbuat baik kepada ibu bapamu? Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sehingga aku mati atau engkau kufur (kepada Nabi Muhammad saw).” (Riwayat Muslim).

Berikutan peristiwa ini, Allah SWT menurunkan ayat 8 daripada surah al-Ankabut yang bermaksud: “Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada ibu bapanya; dan jika mereka berdua mendesakmu supaya engkau menyekutukan Aku (dalam ibadatmu) dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya maka janganlah engkau taat kepada mereka. Kepada Akulah tempat kamu semua kembali, kemudian Aku akan menerangkan kepada kamu segala yang sudah kamu kerjakan.”

Peristiwa di atas dikuatkan lagi dengan wasiat Luqman al-Hakim kepada anaknya dalam al-Quran bermaksud: “Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada ibu bapanya; ibunya mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (daripada awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun (dengan yang demikian) bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapamu dan (ingatlah), kepada Akulah tempat kembali (untuk menerima balasan). Dan jika mereka berdua mendesakmu supaya engkau menyekutukan Aku (Allah) dengan sesuatu yang engkau – dengan akal fikiranmu – tidak mengetahui sungguh adanya, maka janganlah engkau taat kepada mereka dan bergaul dengan mereka di dunia dengan cara baik. Dan turutlah jalan orang yang rujuk kembali kepadaKu (dengan tauhid dan amal-amal yang salih). Kemudian kepada Akulah tempat kembali kamu semua, maka Aku akan menerangkan kepada kamu segala yang kamu kerjakan.” (Surah Luqman ayat 14-15).

Inilah cara pergaulan dengan ibu bapa dianjurkan Islam. Hormati dan berbuat baik kepada ibu bapa selagi suruhan mereka itu tidak melanggari syariat Islam.

Mengingkari perintah supaya berbuat baik kepada ibu bapa termasuk dalam kategori dosa besar. Jika menyebut ungkapan ‘uuh’ atau ‘aah’ dikira sebagai menyakiti dan menderhaka, apatah lagi jika ada antara anak mencerca, memaki dan memukul ibu bapa mereka.

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amru bin al-'As r.a katanya: Rasulullah SAW bersabda bermaksud: Antara dosa besar ialah seorang lelaki mencerca ibu bapanya. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Adakah akan berlaku seorang lelaki memaki-hamun ibu bapanya?

Rasulullah SAW menjawab dengan bersabda: Ya. Seorang lelaki memaki hamun bapa seorang lelaki lain, nescaya lelaki itu memaki kembali bapanya, begitu juga sekiranya seorang lelaki memaki hamun ibu seorang lelaki lain, nescaya lelaki itu juga akan memaki hamun ibunya. (Riwayat al-Bukhari)

Rasulullah SAW menganggap menderhaka kepada ibu bapa sebagai dosa besar selepas syirik. Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra katanya: Nabi SAW pernah menceritakan tentang dosa besar. Baginda bersabda yang bermaksud: “Menyekutukan Allah, menderhaka kepada ibu bapa, membunuh dan berkata dengan kata palsu.” (Riwayat Muslim)

Selain itu, banyak peristiwa dan kejadian menimpa orang menderhaka ibu bapanya. Satunya ialah peristiwa menimpa Alqamah. Alqamah seorang sahabat yang kuat beribadah kepada Allah SWT, tidak dapat melafazkan kalimah tauhid pada saat kematiannya. Alqamah pernah melakukan perbuatan mengguris hati ibunya akibat terlalu cinta kepada isterinya. Beratnya dosa menyakiti ibu bapa, lidah Alqamah seakan-akan terkunci. Tiada sepatah perkataan pun terkeluar daripada mulutnya. Azab yang menimpa Alqamah berakhir selepas ibunya memaafkan kesalahan yang dilakukannya.

Kesimpulannya, anak yang menghormati dan berbuat baik kepada ibu bapa akan mewujudkan keluarga bahagia. Kestabilan dan kebahagiaan dalam keluarga adalah pemangkin utama ke arah mewujudkan masyarakat penyayang. Seterusnya masyarakat penyayang mewujudkan kestabilan politik, ekonomi dan sosial dalam negara.

Sumber; www.ipislam.edu.my

Kisah wanita dan Rasulullah

Suatu hari ada wanita muslimah datang ke Pasar Bani Qainuqa’ untuk suatu keperluan yang ia perlukan. Ia menghampiri salah satu pedagang Yahu...